JAKARTA — Kinerja Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam mengelola arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 mendapat apresiasi dari kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menilai upaya pengaturan lalu lintas yang dilakukan aparat telah menunjukkan hasil positif di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa periode mudik Lebaran setiap tahun selalu menghadirkan tantangan yang kompleks. Lonjakan jumlah kendaraan, perbedaan waktu perjalanan, serta kondisi infrastruktur menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran arus. Namun demikian, menurutnya, Korlantas Polri mampu menjalankan tugas pengamanan dengan optimal.
Sahroni menegaskan bahwa meskipun masih terdapat sejumlah aspek yang dapat ditingkatkan, secara umum pengelolaan arus lalu lintas selama Lebaran tahun ini berjalan dengan baik. Ia melihat adanya upaya serius dari aparat dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan di lapangan.
Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa kepadatan kendaraan yang terjadi di sejumlah titik merupakan dampak dari meningkatnya volume kendaraan. Fenomena ini dinilai sebagai konsekuensi dari tingginya antusiasme masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik setelah masa libur panjang.
Meski demikian, berbagai langkah antisipasi telah diterapkan untuk mengurangi dampak kepadatan tersebut. Salah satu strategi yang digunakan adalah penerapan rekayasa lalu lintas, termasuk sistem satu arah atau one way serta pengaturan lalu lintas lokal di beberapa ruas jalan.
Sementara itu, Polri telah resmi menutup pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 yang menjadi bagian dari pengamanan arus mudik Lebaran. Operasi tersebut berlangsung selama 13 hari dan melibatkan berbagai unsur untuk memastikan keamanan dan kelancaran perjalanan masyarakat.
Kepala Korlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa meskipun terjadi peningkatan jumlah kendaraan dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi lalu lintas tetap dapat dikendalikan. Ia menilai keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi manajemen lalu lintas yang diterapkan secara terukur.
Menurutnya, penggunaan parameter tertentu dalam menentukan waktu dan lokasi penerapan one way menjadi kunci dalam mengurai kepadatan. Selain itu, skema one way lokal juga diterapkan secara bertahap untuk mengoptimalkan distribusi kendaraan di jalur-jalur tertentu.
Ia menjelaskan bahwa penerapan rekayasa lalu lintas tidak hanya berfokus pada puncak arus mudik, tetapi juga pada periode arus balik. Dengan pendekatan ini, pergerakan kendaraan dapat diatur secara lebih efektif sehingga potensi kemacetan dapat diminimalkan.
Selain itu, koordinasi antara berbagai pihak turut berperan penting dalam menjaga stabilitas lalu lintas. Korlantas Polri bekerja sama dengan instansi terkait, termasuk pengelola jalan tol dan pemerintah daerah, untuk memastikan setiap kebijakan dapat berjalan dengan baik di lapangan.
Dalam praktiknya, petugas di lapangan juga melakukan pemantauan secara intensif. Pengaturan lalu lintas dilakukan secara dinamis sesuai dengan kondisi terkini. Hal ini memungkinkan respons cepat terhadap perubahan situasi, seperti lonjakan kendaraan atau gangguan di jalur tertentu.
Sahroni menilai bahwa pendekatan yang dilakukan Korlantas sudah berada pada arah yang tepat. Ia berharap evaluasi tetap dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas pelayanan dapat terus ditingkatkan pada periode mudik berikutnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung kelancaran arus lalu lintas. Kepatuhan terhadap aturan serta kesadaran dalam berkendara menjadi faktor penting dalam menciptakan perjalanan yang aman dan nyaman.
Korlantas Polri sendiri memastikan akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pengamanan Lebaran 2026. Hasil evaluasi ini nantinya akan menjadi bahan perbaikan dalam menghadapi agenda serupa di masa mendatang.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 dinilai mampu berjalan lebih terkendali dibandingkan potensi yang ada. Peningkatan volume kendaraan dapat diimbangi dengan strategi pengaturan lalu lintas yang efektif.
Ke depan, sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat. Langkah ini penting untuk menghadapi tantangan mobilitas yang semakin tinggi setiap tahunnya.









