Jakarta — Suasana duka menyelimuti jajaran Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyusul wafatnya Bripka (Anumerta) Fajar Permana, anggota Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya yang gugur saat menjalankan tugas dalam rangka Operasi Ketupat 2026. Kehadiran Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho ke rumah duka menjadi bentuk penghormatan sekaligus empati institusi kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kegiatan silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana haru. Kakorlantas bertemu langsung dengan orang tua, istri, serta anak almarhum. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian salah satu anggota terbaik Polri yang telah mengabdikan diri untuk keselamatan masyarakat.
Irjen Agus menegaskan bahwa kehadirannya merupakan amanah sekaligus bentuk perhatian institusi terhadap keluarga besar anggota Polri. Ia juga menyampaikan bahwa kehilangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh seluruh jajaran Polri, khususnya Korlantas.
Bripka (Anumerta) Fajar Permana diketahui meninggal dunia pada 22 Maret 2026 saat bertugas mengamankan arus mudik dalam Operasi Ketupat 2026. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kelancaran arus lalu lintas selama musim mudik, terdapat risiko besar yang dihadapi para petugas di lapangan.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, sekaligus menegaskan besarnya pengorbanan yang diberikan oleh personel kepolisian dalam menjalankan tugas negara. Dalam pelaksanaan Operasi Ketupat, ribuan anggota dikerahkan untuk memastikan masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman.
Kakorlantas menyampaikan bahwa tugas kepolisian, khususnya di bidang lalu lintas, tidak hanya berkaitan dengan pengaturan kendaraan di jalan raya. Lebih dari itu, tugas tersebut mencakup perlindungan terhadap keselamatan jiwa masyarakat. Oleh karena itu, setiap anggota di lapangan dituntut untuk bekerja dengan dedikasi tinggi, bahkan dalam kondisi yang penuh risiko.
Ia menambahkan bahwa pengabdian almarhum menjadi contoh nyata dari komitmen anggota Polri dalam melayani masyarakat. Pengorbanan tersebut dinilai sebagai bentuk kehormatan tertinggi dalam menjalankan tugas negara.
Selain menyampaikan duka, Kakorlantas juga memberikan pesan penguatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia berharap keluarga dapat diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan tersebut. Pada saat yang sama, institusi Polri memastikan bahwa perhatian terhadap keluarga anggota yang gugur akan terus diberikan.
Momentum ini juga menjadi refleksi bagi seluruh jajaran Polri. Keberhasilan Operasi Ketupat 2026 yang ditandai dengan kelancaran arus mudik dan balik tidak terlepas dari kerja keras seluruh personel. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat pengorbanan yang tidak terlihat oleh publik secara luas.
Kakorlantas menegaskan bahwa setiap anggota yang gugur dalam tugas akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan institusi. Nilai-nilai pengabdian, keberanian, dan tanggung jawab yang ditunjukkan almarhum diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh personel.
Selain itu, peristiwa ini juga memperkuat solidaritas di lingkungan Polri. Rasa kebersamaan dan kepedulian antaranggota menjadi hal yang penting dalam menjaga semangat pengabdian. Dengan solidaritas yang kuat, setiap anggota diharapkan dapat saling mendukung dalam menjalankan tugas yang tidak ringan.
Di sisi lain, peran masyarakat juga dinilai penting dalam mendukung tugas kepolisian. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan kesadaran akan keselamatan berkendara menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko di jalan raya. Dengan demikian, upaya menjaga keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga seluruh pengguna jalan.
Korlantas Polri menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengamanan di masa mendatang. Pengalaman selama Operasi Ketupat 2026, termasuk peristiwa yang menimpa Bripka Fajar Permana, akan menjadi bahan evaluasi dalam memperkuat sistem kerja dan perlindungan bagi personel di lapangan.
Pada akhirnya, pengabdian Bripka (Anumerta) Fajar Permana menjadi simbol dedikasi tanpa batas dalam menjaga keselamatan masyarakat. Kepergiannya meninggalkan duka, tetapi juga menghadirkan semangat baru bagi seluruh jajaran Polri untuk terus menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Keberhasilan menjaga kelancaran arus mudik bukan hanya tentang angka dan statistik, tetapi juga tentang manusia di baliknya. Mereka yang berdiri di jalan, mengatur arus kendaraan, dan memastikan setiap perjalanan berlangsung aman, sering kali menghadapi risiko besar.
Melalui peristiwa ini, nilai kemanusiaan dalam tugas kepolisian kembali ditegaskan. Pengabdian yang tulus, keberanian dalam menghadapi risiko, serta komitmen untuk melindungi masyarakat menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugas.
Dan di balik semua itu, nama Bripka (Anumerta) Fajar Permana akan selalu dikenang sebagai salah satu pahlawan keselamatan yang telah memberikan pengorbanan terbaiknya untuk bangsa.






